Loading
Tim Koordinasi Nasional Penanganan Sampah Laut
  • TENTANG KAMI
    • LATAR BELAKANG
    • STRUKTUR ORGANISASI
    • KELOMPOK KERJA
  • REGULASI
  • POJOK INOVASI
    • EKONOMI
    • TEKNOLOGI
    • KEPEMERINTAHAN
    • KEMASYARAKATAN
  • KNOWLEDGE
    • BERITA
      • NEWSLETTER
    • DOKUMEN
      • FILE
  • EVENTS
    • PROGRAM
      • LABUAN BAJO
    • INC-3
    • EUPHORIA
    • UN OCEAN CONFERENCE
      • MONITORING and ASSESSMENT
      • GLOBAL COMMITMENTS and ACTIONS
    • RESIK
  • Search
  • Menu Menu

Kisah Sukses Remaja Surabaya Tristan Budidaya Maggot

Oktober 12, 2020/1 Comment/in Berita/by admin

Kisah Sukses Remaja Surabaya Tristan Budidaya Maggot

By Liputan6.com

(11 Oktober 2020)

Liputan6.com, Jakarta – Usia muda bukan menjadi penghalang untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi lingkungan. Hal ini dibuktikan oleh remaja asal Surabaya, Jawa Timur bernama Tristan Kesyandria Ali Pasha (14).

Remaja akrab disapa Tristan ini membudidayakan maggot untuk dimanfaatkan sebagai pengurai limbah dan sampah organik.

Maggot merupakan larva atau belatung yang berasal dari telur serangga bernama black soldier fly (BSF). Maggot termasuk larva pemakan bahan organik seperti sayuran, limbah rumah tangga, dan limbah restoran. Dengan kemampuan yang dimilikinya tersebut, Maggot dapat dimanfaatkan sebagai pengurai sampah organik.

Tristan membudidayakan maggot di rumahnya di Surabaya, Jawa Timur. Dengan maggot, Tristan mengurangi jumlah sampah organik di Surabaya.

“Masih banyak sampah yang tidak dimanfaatkan, padahal bagi saya, sampah masih dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Tristan saat dihubungi Liputan6.com ditulis Minggu, (11/10/2020).

Budidaya maggot merupakan bentuk keresahan Tristan lantaran menumpuknya jumlah sampah organik. Ia tertarik membudidayakan maggot untuk dapat mengurangi jumlah sampah organik, karena maggot merupakan dekomposer yang handal.

Awal siswa SMPN 41 Surabaya ini mendapatkan ilmu budidaya maggot berasal dari internet. Kemudian ia juga belajar dari para peternak maggot di Surabaya dan Sidoarjo.

Maggot yang dibudidayakan Tristan diberikan makanan berupa sampah organik yang didapatkan dari grebek pasar di sekitar lingkungan tempat tinggalnya. Menurut Tristan, dalam budidaya maggot bagian paling sulit adalah memberi makan.

Saat memberikan makan maggot, wadah atau media tidak boleh sampai basah dan bau. Hal ini karena  jika sampai menjadi bau dan basah, akan keluar media kemudian maggot akan mati.

Masa pandemi ini menjadi tantangan bagi Tristan. Lantaran masyarakat diimbau tetap di rumah sehingga jarang ke pasar. Ternyata hal itu mempengaruhi jumlah stok sampah organik. Oleh karena itu, Tristan harus mencari sampah organik hingga ke rumah tetangga.

Hingga Oktober 2020, Tristan telah berhasil membudidayakan maggot seberat 1.3 ton dan telah mengurai sampah organik seberat 13.6 ton.

Remaja yang juga dapat predikat Pangeran Lingkungan 2020 ini mengistilahkan sampah organik yang telah diurai oleh maggot tersebut sebagai KasGot alias bekas maggot. KasGot berasal dari bekas makanan maggot yang kemudian dijadikan pupuk.

Selain KasGot, Tristan juga memanfaatkan lendir maggot sebagai PuCaGot atau pupuk cair maggot. Pupuk cair ini berasal dari air liur maggot yang ada di dalam media atau wadah tempat tinggal maggot. KasGot dan PuCaGot banyak diminati oleh berbagai kalangan masyarakat, mulai dari tetangga, petani dan pengusaha.

Maggot yang dibudidayakan tidak hanya berguna sebagai pengurai sampah. Bahkan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun di konsumsi.

Keluarga Tristan juga menggunakan maggot sebagai pakan lele karena kandungan proteinnya yang tinggi dapat membuat daging lele lebih enak. Selain itu, maggot bahkan lebih murah dari pada pelet pakan lele. Terkadang lele yang diberikan pakan maggot juga dijadikan NuLeMa yaitu nugget lele maggot.

Kemudian ada dry maggot, yaitu maggot yang disiram air kemudian dipanggang menggunakan oven untuk nantinya dikonsumsi. NuLeMa dan dried maggot saat ini belum dijual oleh Tristan. Hal ini mengingat untuk bisa dijual secara bebas, perlu uji lab dan dari BPOM.

“Produk dari maggot yang saat ini bisa dijual, KasGot, PuCaGot dan maggotnya. NuLeMa dan dried maggot masih belum bisa dijual, soalnya harus uji lab dan ke BPOM dulu,” ujar Tristan.

Tristan berharap mampu memaksimalkan usahanya dalam membudidayakan maggot untuk mengurai sampah organik. Ia menargetkan bisnis produk dari maggot dan mengolah sampah organik. Selain itu, Tristan juga berharap warga akan lebih banyak lagi yang peduli lingkungan.

“Harapannya masyarakat lebih sadar terhadap lingkungan. Tidak harus caranya sama dengan saya. Masih banyak cara yang lain untuk menjaga lingkungan,” ujar dia.

Kesuksesan Tristan dalam prestasinya dan juga budidaya maggot tak lepas dari dukungan keluarga, guru pembimbing dan teman-temannya sehingga menjadi faktor Tristan membuka diri bagi siapa saja yang ingin belajar budidaya maggot.

Bahkan setelah pandemi berakhir, dia berencana membagikan pengalaman dan wawasannya terkait budidaya maggot kepada warga di sekitar tempat tinggalnya.

Artikel ini telah tayang di surabaya.liputan6.com dengan judul “Kisah Sukses Remaja Surabaya Tristan Budidaya Maggot”,
Klik untuk baca:
https://surabaya.liputan6.com/read/4378999/kisah-sukses-remaja-surabaya-tristan-budidaya-maggot.

By Liputan6.com
Share
  • Share on Facebook
  • Share on Twitter
  • Share on WhatsApp
  • Share on LinkedIn
  • Share by Mail
1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Share this entry
  • Share on Facebook
  • Share on Twitter
  • Share on WhatsApp
  • Share on Pinterest
  • Share on LinkedIn
  • Share on Tumblr
  • Share on Vk
  • Share on Reddit
  • Share by Mail
https://j5p0.c12.e2-5.dev/sampahlaut/logo-tkn-1.jpg 0 0 admin https://j5p0.c12.e2-5.dev/sampahlaut/logo-tkn-1.jpg admin2020-10-12 23:45:192020-10-12 23:45:19Kisah Sukses Remaja Surabaya Tristan Budidaya Maggot
1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

  • Dipuji Pakar Lingkungan, Gagasan Gubernur Koster Soal Sampah Dinilai Solusi TuntasAgustus 9, 2025 - 02:04
  • Pastikan Progres Pengolahan Sampah, Menko Pangan ke TPST MengwitaniAgustus 9, 2025 - 02:00
  • Pemkab Pandeglang Respons Protes Warga soal TPA Tampung Sampah TangselAgustus 9, 2025 - 01:50
  • China is the world’s biggest plastic producer — making as much as 6 countries combinedAgustus 9, 2025 - 01:44
  • More than 200 lobbyists at UN’s plastic treaty talks will limit progress, campaigners warnAgustus 9, 2025 - 01:36

Gedung Manggala Wanabakti, Jl. Gatot Subroto RT.1/RW.3 Glora, Tanah Abang Jakarta Pusat 12190

sekretariat@tknpsl.id

INSTITUSI TERKAIT

SISTEM

  • Sistem Pelaporan
  • Data Sampah
SOSIAL MEDIA
  • Share on Facebook
  • Share on LinkedIn
  • Link to Instagram
  • Link to Youtube

Copyright © 2020 Tim Koordinasi Nasional Penangan Sampah Laut

Usai Demonstrasi UU Cipta Kerja, Petugas Angkut 800 Kilogram SampahInovatif, Desa Taro Sulap Kotoran Lembu dan Sampah Jadi Pupuk Organik
Scroll to top